Dia...cinta. Dia…wanita penyihir yang melempar rindu, suka, juga duka di waktu yang sama. Dia…empat tahun berlalu sedemikian cepatnya. Ya, roda masa seakan berlarian begitu riangnya, bergerak lepas tanpa beban yang berarti. Empat tahun, ya…empat tahun…bergulir dia. Empat tahun, ya…empat tahun…dan masih saja ada sejuta kenangan yang melulu kubungkus atas nama dia.
“Aida-san…”, jerit batin setengah tertekan. “Apa kabarnya ?. Masihkah ada selintas ingatan tentang diriku yang disimpannya ?. Tetap riangkah dia ?. Cantik-kah dia sebagaimana dulu kupersepsi begitu ?”, bongkahan-bongkahan cerita masa lalu datang bergerombol layaknya awan yang menghiasi angkasa. Namun hitam dia, pekat yang menandai datangnya hujan. Sama sekali tak indah tentu saja.
Purwakarta diselimuti hawa dingin yang begitu menggigit hari ini. Dari balik kaca jendela, kulihat simfoni alam yang seperti tahu saja bagaimana suasana hatiku. Tetes air yang melimpah ruah dari atas sana, oh !...apakah para penghuni langit pun merasakan getir yang tengah kurasakan ini ?.
“Kenapa, Pih ?”, suara itu memutus belenggu kebekuan yang menjeratku sedari tadi. “Papih…papih…papih !!!”, ramai celoteh anak kecil menarik sukmaku yang melayang liar kembali ke tanah kenyataan. Kubalas perhatian mereka dengan senyuman yang andai saja mereka tahu….ah !, itu dibuat-buat demi menutupi pedih perasaan yang kembali mengemuka di permukaan hatiku.
Oh…lihat mereka. Wanita berkerudung yang kunikahi beberapa tahun ke belakang, mamih…betapa cantiknya dia. “Kenapa harus aida-san ?. Kenapa harus memori lama itu lagi ?”, kembali pertanyaan demi pertanyaan muncul dibenakku. Kini, dia malah lebih mirip penyesalan alih-alih sekadar pertanyaan yang menanti sebuah jawaban. Hamzah, Ali…kedua anakku yang masih asyik menjelajahi belantara kekanakannya. Begitu lucu dan menggodanya mereka. “Ah !...tak cukupkah kehadiran mereka sebagai mutiara hidupku, sehingga masih ada ruang yang tersisa untuk aida-san ?”, terdiam saja aku dalam monolog yang kukira paling tragis.
Wanayasa, 18 Juli 2009
Fragmen awal cerita bersambung ini ditulis di wanayasa, bersama kegelapan yang seakan menjadi penanda kebenaran thesis tentang involusi negara dunia ke-tiga.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar