Adsense Indonesia

Siluet Mentari Di Sorbonne Sore Itu

19.19 / Diposting oleh Widdy Apriandi / komentar (1)

Perempuan itu masih terpaku di mesin jahitnya. Aih, lihat dia…di usianya yang semakin renta…entah…masih disimpannya untaian ke-elok-an yang begitu luar biasa. Air mukanya tenang sekali...menyiratkan arogansi yang sengaja ditengadahkannya kepada dunia yang telah membentuknya sedemikian rupa sampai hari ini. Jemarinya gemulai, meliuk-liuk perlahan senada dengan pola jahitan yang dikehendakinya. Cantik, anggun…perempuanku, kusadari itu sedari dulu.

Wanayasa masih diselimuti dingin yang menggigit pori-pori kulit malam ini. Deras hujan yang turun sejak sore tadi mengantarkan alam menemui detik-detik keheningannya. Nyaris tak ada kendaraan yang biasanya berlalu-lalang di depan rumahku. Kalaupun ada, kupikir hanya satu atau dua. Itu pun tak sering. Sungguh nuansa hening seperti inilah yang selalu kutunggu-tunggu. Ya, terus terang aku rindu dengan suasana desa ini di masa lalunya. Tanpa kebisingan yang berlebihan…hanya kesederhanaan saja yang tampak jelas di depan mata. Betul !, kesederhanaan…sebagaimana terpancar dari kesaksian rumah panggung yang dulu sempat berdiri di tanah yang kupijak sekarang ini. Kini berganti dia. Lebih tepatnya, tertunduk malu diserang tuntutan zaman yang menghendaki pergantian segala rupa ornamentasi kehidupan.

Perempuan itu masih asyik bergelayut dengan kesibukannya. Sesekali, kulihat dia melirik tepat ke arahku. Barangkali ada pertanyaan yang hendak disisipkannya melalui sorotan mata itu, tapi ah !...boleh jadi juga tidak di waktu yang sama. Apa yang bisa kulakukan hanyalah menunggu, tak lebih cuma itu saja. Sembari membaca dan meneruskan tanggungan tugas akhir kuliah yang melelahkan jiwa dan raga, kutunggu untaian kalimat yang mungkin saja keluar dari mulutnya.

Bagaimana skripsimu nak, lancar ?”, tanyanya singkat namun penuh perasaan.

Aku yang jelas-jelas dijadikan objek pertanyaannya sontak gugup dihantam lontaran pertanyaan tersebut. Mungkin sepuluh kali atau malah lebih boleh jadi...kurasakan diriku mulai akrab dengan suasana seperti ini. Tentang skripsiku yang tak kunjung selesai, begitu-lah. Dilema memang, kukatakan itu dengan sangat jujur. Namun, tentu bukan dalam artian lemparan dalih seperti halnya sering dipertontonkan para politisi. Bukan !. Mogoknya skripsiku sampai satu tahun lamanya ini memang seringkali dinilai orang dengan pandangan risih dan tak jarang menghinakan. “Tapi toh, tahu apa mereka tentang totalitas kehidupanku ?”, sempalan monolog ini acapkali merayap di batinku. Kilas bayangan aksi demonstrasi beberapa waktu ke belakang terbentang begitu saja di alam pikiranku. Penolakan mahasiswa STIE DR. KHEZ Muttaqien terhadap penertiban sepihak Satpol PP atas Pedagang Kaki Lima yang seringkali mangkal di jalanan ibu kota, pesan seperti demikianlah yang kami propagandakan secara akrobatik di jalanan. Ah !...dilema memang.

Akhir tahun ini selesai mak, aa janji”, kujawab pertanyaan emak tadi dengan penekanan janji yang harus lunas kubayar tanpa sisa lagi kali ini.

Tersenyum dia. Sembari mencicipi senyum manis emak itu, kulihat Asma yang seakan asyik dengan pekerjaan dadakan-nya ; menadah air hujan yang bocor ke tengah rumah. Ah !, adikku tercinta yang semakin cantik saja dari ke hari ke hari…tak kusangka senyumnya pun mengembang seperti ingin bilang “makanya cepat selesai bang kuliahnya…nanti jadi mahasiswa abadi lho”.

Tergelincir sang waktu menjemput hitam malam yang sebentar lagi berubah menjadi pekat sama sekali. Pelangi kata berputar di otakku…menagih manifestasinya ke dalam bentuk apapun itu. Ya, apapun memang…nyatanya dia tak pernah memaksaku untuk menuangkannya jadi ini atau itu. Kecuali hari ini…ketika kata-kata itu menerjangku keras dalam wajahnya yang kaku dan tak berperasaan. “Jadikan aku skripsi !...cepat !... cepat !”, teriaknya lantang yang lebih mirip ancaman alih-alih kesadaran hakiki yang berbalut tudung cinta.

***

Butiran-butiran tasbeh terus saja bergulir dari jari-jemarinya. Kalimat-kalimat suci melompat dari mulutnya. Samar, setengah berbisik ; subhanallah…alhamdulillah…allahu akbar…laa illahaillallah. Ya Robb !…mukenanya basah karena luapan air yang deras keluar dari bola matanya. Ya, dia menangis…tangisan seorang hamba yang menyayat sukma. Dirapalkannya do’a-do’a, pujian-pujian untuk-Mu ya Robb !...sembari meratap. Sungguh ratapan yang tak lain adalah ekspresi kefanaan manusia yang tidak akan pernah berpunya selain atas kehendak-Mu.

Dia…ibu. Dia…cahaya mata kami anak-anaknya yang telah dibimbingnya dari masa ke masa. Dia…wanita pejuang yang tidak akan pernah rela menunduk pada dunia. Dia…pecinta sejati yang tidak pernah berpaling dari cinta pertama dan terakhirnya ; ayah kami yang telah tiada.

Begitulah…ekspedisi detik demi detik yang berlalu di malam ini kami lewati dengan jamuan batin yang kami gelar seadanya. Bertiga,,,aku, emak dan asma berkumpul dalam majlis sederhana yang segalanya kami persembahkan untuk Allah semata. Ber-tahajjud…kami bersujud bersama di hadapan Allah di tengah kesenyapan yang menyisakan malas dan enggan bagi sebagian orang. Segala pengharapan kami lemparkan ke pangkuan-Nya…setiap inci mimpi kami labuhkan ke dermaga-Nya. Berharap...ya, berharap…Dia berkenan memeluk pengharapan-pengharapan dan mimpi-mimpi yang kami miliki.

Emak…diusapnya kepala kami berdua. Tak lama, dipeluknya kami begitu erat. “Jadilah kalian anak-anak emak yang sholeh dan sholehah. Berikhtiar dan berdo’lah selalu kepada Allah…semoga lancar segala urusan kalian”, pesan emak kepada kami sebelum menutup kesyahduan majlis yang kami rangkai bersama.

Seperti kilatan petir yang sesekali tampil menghiasi kemegahan angkasa raya, visi itu nyaris tergambar jelas di otakku. Entah…dari bola mata emak yang sempat kutatap begitu dekat, ada jendela gaib yang menghubungkan aku dengan dunia lain yang masih coba kutafsirkan apa maksudnya. Arsitektur-arsitektur nan rupawan lagi megah, sungai-sungai yang bersih dan eksotis, perpustakaan yang memanjakan para pembacanya…aku ada di sana.

Kucium tangan emak, “ do’akan aa mak, semoga lancar sidang skripsi hari ini”.

***

Lepas dari kepenatan skripsi yang menggoncangkan fisik dan batin, kini segalanya serba berbeda. Ya, tanpa terasa enam tahun telah berlalu. Begitu cepatnya, sehingga makin kuinsyafi kenapa Allah merahmati manusia dengan ayat-Nya yang diawali dengan kalimat “demi masa”. Masih kuingat bagaimana haru dan bangganya suasana wisuda yang kulewati ketika ayunan langkahku ke altar suci akademisi diiringi dengan lengkingan suara “cum laude”. Betapa hari yang indah dan akan selalu tersimpan di memori nalarku !. Kerja keras yang kucurahkan untuk tugas akhir perkuliahanku terbalas tuntas dengan ending yang melegakan. Tak henti-henti rasa syukur kuucapkan untuk-Nya ; alhamdulillah.

Dan hari ini..,dari bola mata emak yang kembali kutatap begitu dekat…kusadari apa arti dari visi yang tiba-tiba menyeruak hadir begitu saja tempo hari itu. Memang kami ada disini. Emak, asma-ku yang tercinta…lihat mereka !...senang betul rupanya mereka bermain-main dengan burung yang terbang dan berkumpul bebas di taman ini. Digenggamnya camilan untuk si burung, disebarkannya suka-suka. Sungguh mengasyikkan melihat kegembiraan mereka berdua.

Rupanya Allah menjawab setiap detail pengharapan dan mimpi kami. Sore ini, kami berkumpul di taman Sorbonne setelah usai melewati seremoni penyerahan gelar Phd yang baru saja aku raih. Negeri Perancis yang alamak cantiknya…Universitas Sorbonne yang selalu menyimpan pesona sejarah para pemikir kaliber dunia. Aku disini…bersama emak…bersama asma. Bercengkerama…menikmati siluet mentari di sore ini.

Wanayasa, 4 Agustus 2009

Tulisan ini selesai di kamarku sendiri.

Berteman jus Alpukat yang dibuat si mamah, juga beban sakit (gejala DBD) yang menghantam

fisik dan batin.

Ada alunan musik kang ferry curtis yang turut membidani lahirnya ini cerpen, “ibu” judulnya. Terima kasih untuk si akang. Salah satunya, karya ini saya dedikasikan untuk si akang yang bisa-bisanya mengingatkan dunia tentang arti ibu.

Label:

Lari-Lari Pagi-Pagi (Cerpen Spekulasi)

04.55 / Diposting oleh Widdy Apriandi / komentar (0)

Pagi-pagi ceritanya, lari-lari begitu juga saya ceritanya. Bukan sombong bukan apa, tapi ya begitu lah…terpaksa ! (sumpah !). Gara-gara si mamih sih sebetulnya yang mengajak-ajak saya untuk ikut lari pagi yang menyebabkan saya pagi-pagi sudah lari-lari. Dasar itu si mamih…dapat wangsit katanya tadi malam. Itu dia cerita lewat SMS yang dikirimkannya pasti ke handphone saya yang tentu saja bukan handphone si mamah apalagi handphone tetangga yang galaknya minta ampun itu. Bilang saja begini dianya yang ya ampun tanpa diminta :

Pokony papih hrs ikt lari pagi ini…

lez, GPL !!!

Aih itu si mamih…pakai “GPL” segala kayak sayanya tukang batagor ajah. Pasti itu artinya “Gak Pake Lama” yang mengakibatkan harus buru-buru saya balas itu SMS. Pastilah itu si mamih tidak mau tahu urusan apa pun selain sayanya harus segera balas, sehingga terjadi kegiatan balas membalas SMS. Ok lah, saya balaslah itu SMS si mamih daripada nanti masalahnya semakin panjang, terus panjang, terus, terus, terus sampai si mamih kapok kirim SMS ke sayanya :

Iah…hayu !!!

Jadinya saya bangun pagi-pagi setengah hati. Maksudnya setengah buat si mamih, setengah buat si kasur saya yang kelihatan semakin empuk saja dari menit ke menit. Saya pun berkaca-lah di cermin setelah pakai sabun, odol dan sikat gigi yang mungkin maksudnya adalah mandi. Itu saya sedang mematut-matut muka apa adanya yang beda dua SMS saja dari si Dellon. Semua orang sudah tahu toh, jadi tidak usahlah diperdebatkan lebih jauh. Buang-buang waktu. Ok ?!.

Sudah di luar rumah. Jangan tanya siapa yang sudah di luar rumah, karena sudah pasti itu saya. Lihat banyak orang berlalu-lalang, lihat juga Si mamih yang tampaknya sedang nyengir begitu di sepeda motor yang dibawanya dari rumah. Itu juga saya, pokoknya saya lah.

Emmm…si mamih basa-basi di pagi hari. Saya tengok kanan-kiri, mungkinkah si mamih sedang ingin ikutan shooting acara termehek-mehek ?. Aneh si mamih, bikin saya kepingin tidur lagi, mimpi lagi, ketemu bidadari lagi.

Pih…udah makan ?, kata si mamih. Saya diam, manyun tepatnya. Pih, udah mandi ?, kata si mamih lagi. Saya diam lagi, manyun lagi tepatnya. Pih…ngambek ke mamih ?. Otomatis saya diam lagi dan manyun lagi lah…pasti !. Pih…berani ke mamih manyun-manyun segala gitu ?, kata si mamih yang aduhai plus seringai trio macan tutul. Hehe…ngga mih, ampuuun, kata saya yang akhirnya harus tersenyum senang daripada dijitak.

Sampailah saya dan si mamih di lokasi lari yang entah bagaimana awalnya tiba-tiba saya dan si mamih tahu saja bahwa itu lokasi namanya Situ Buled. Lari-lari jadinya, berkeringat jadinya. Terus pegal, terus linu, terus haus.

Kan laki-laki harus kuat, jadinya jaga gengsi untuk bilang istirahat duluan. Kebetulan si mamih ngajak saya istirahat. Itu si mamih duluan yang bilang, capek katanya. Istirahat yuk pih ?, kata si mamih yang nafasnya luar biasa jadi mirip kuda nil. Iah hayu !. euh…padahal mah papih masih kuat lari perasaan mah dua juta kuriling lagi juga, kata saya serius. Beneran pih ?!, si mamih balas nanya. Iah dong, kata saya tambah serius. Si mamih penasaran. Itu coba lihat matanya si mamih liar memandang saya. Seram kayak Satpol PP. Perasaan mih…perasaaan, kata saya sekadar menegaskan saja. Yess !.

Jadinya duduk-duduk setelah lari-lari. Terus minum-minum, terus makan-makan. Pih…tadi malam mamih mimpi jadi langsing, celetuk si mamih. Saya diam manggut-manggut mencoba mendengarkan atau yang dalam istilah populer disebut ngaregepkeun !. Tidak berkata apa-apa, karena mulut saya sedang sibuk makan yang mengakibatkan tidak bisa diganggu. Serius sekali itu si mamih cerita-cerita sampai-sampai saya bingung itu si mamih apa wa kepoh sih. Badan mamih jadi mirip dian sastro pih, beneran !. Mamih jalan-jalan di catwalk, banyak orang lihat mamih, celoteh si mamih yang panjang bercerita.

Saya : Papih ikut liat ga mih ? (wkkkakwakkkak—maksudnya nanya sambil makan).

Si Mamih : Ngga ada tuh pih…kemana atuh pih kok ga ada yah ?

Saya : Euh mamih mah…

Si mamih : Hehe…

Saya : kan papih mah sama bidadari…wew

Si mamih : yeeehhhh….

Oh…itu maksudnya. Oh…itu intinya. Oh…buat itu toh lari-lari pagi-pagi ini itu. Mau diet katanya. Biar langsing katanya. Ingin jadi kayak dian sastro katanya.

Oh…si mamih yang ingin langsing seperti dian sastro. Jahat itu wangsit yang datang malam tadi ke si mamih. Kenapa harus dian sastro ?. Jadinya si mamih kepingin diet yang menyebabkan dianya mendadak ingin terus lari-lari pagi-pagi. Jahat itu wangsit, sehingga si mamih jadi jarang makan. Terus sakit lambungnya dikarenakan maag. Jadinya ngga bisa ketemuan sama saya, jadinya saya rindu, jadinya saya khawatir.

Padahal aduh itu si mamih….saya sayang dianya apa adanya. Biar selintas menyerupai kaleng kerupuk, biar-lah saya tetap cinta. Biar imut-imut kayak bayi trenggiling, sungguh saya sayang kamu seperti itu.

Purwakarta, 20 Juni 2009

Nirwana yang telah berlalu

Mamih—telepon aku

Label:

Ruang Kelas Yang Tergusur

22.08 / Diposting oleh Widdy Apriandi / komentar (0)

Ruang kelas yang dahulu biasa penuh sesak dengan manusia-manusia putih abu-abu, kini berubah hening. Sepi tanpa gerak-gerik yang berarti. Kemarin-kemarin ruang kelas ini jadi buah bibir. Banyak prestasi yang lahir dari hasil pergulatan manusia-manusianya. Sorak-sorai kebahagiaan, suara tawa terkekeh-kekeh kegirangan seolah masih terdengar. Banyak cerita ; suka, duka, luka, senang dan sebagainya. Semua tercatat dalam gerakan debu yang gemar bercinta dengan peluh kelelahan khas anak SMA.Tapi itu dulu…enam tahun yang lalu. Tak kusangka waktu berlarian begitu cepat. Banyak berubah…atau justru malah dipaksa untuk berubah. Ruang kelas ini saksinya. Sekarang semuanya hilang. Tersapu rata bersama tanah padat. Kosong tak bermakna. Semuanya betul-betul raib entah kemana. Bangku, meja, papan tulis dan para manusia di tanah itu semuanya sirna. Ruang kelas itu bisu dikangkangi waktu. Beralih arti menjadi hanya sepetak tanah parkiran motor yang sungguh menyedihkan.
Apa arti prestasi yang dahulu dibanggakan setinggi langit ?. Padahal itu lahir dari ruang kelas ini, bukan dari ruang-ruang kelas yang lain. Sekarang ?!...ahh !, adakah perangsang yang mampu menghasut sukma untuk bernostalgia dengan itu semua ?. Tinggal mimpi, atau…paling tidak ingatan dari mulut ke mulut yang sengaja dibuat turun-temurun. Tragis.
Ruang kelas 3 IPS 2 yang dulu dipuji sedemikian rupa terampas benang sejarah gilang-gemilangnya. Habis dijarah oleh ambisi dan obsesi manusia-manusia yang terlanjur percaya dengan mitos pembangunan. Kelas teladan, kelas para bintang…itu dulu. Sekarang…lahan parkiran sekolah yang sepintas lalu tak jauh berbeda dengan petakan parkiran di mall-mall besar kota ini. Purwakarta.
***
Masih saja kusempatkan waktu untuk tersenyum pahit ketika setiap waktu melintas berhadap-hadapan dengan gerbang sekolah yang kelihatan begitu megah hari ini. Setiap waktu juga kurasakan sesak di dadaku gara-gara itu. Campur baur perasaan dalam warna yang berjuta-juta. Berpikir, melayang bersama derap langkah sadar saat melintas. Kemudian sesak, karena pada akhirnya perjalanan liar perasaan itu berlabuh di pulau kegetiran.
Ingin selalu mempercepat langkah di kala melintas, tetapi tak mampu. Kepongahan gerbang sekolah itu yang menyedot sebagian besar tenagaku. Begitu angkuh…sehingga jelas punya kekuasaan untuk menghakimi orang seenak hati tanpa butuh penjelasan apalagi bantahan. Aku korbannya…manusia yang selalu saja merasa dihakimi ketika memberanikan diri untuk menatap. Selalu saja…malu, minder, asing, terkucilkan. Berat kaki untuk melangkah, lelah. Seperti undur-undur…melangkah merayap-rayap karena terlalu besar timbangan malu ketimbang pede-nya.
Waktu memang sungguh-sungguh berputar. Enam tahun bukan waktu yang sebentar. Segala sesuatunya serba berubah. Tak peduli besar atau kecil, setiap perubahan itu nyata. Enam tahun ke belakang, gerbang yang angkuh itu sama sekali tak ada. Tak terpikirkan boleh jadi. Bangunan itu tak sesombong sekarang yang terkesan garang menantang. Bangunan itu dulu begitu anggun, namun berwibawa. Sederhana, tak neko-neko. Eksotis…karena ada goresan tinta sejarah kolonial yang bersaksi dalam rangkaian rapi batu-batu. Saksi bisu sejarah pemerintahan kolonial Belanda. Bangunan tua bersejarah yang difungsikan sebagai sekolah.
Seminggu sekali kubiasakan duduk-duduk benci menatap si gerbang yang sombong. Mengambil arah yang berseberangan, kuteliti urat-urat bangunan itu yang kupikir makin arogan dari waktu ke waktu. Sesekali kupotret...hanya untuk memuaskan dahaga batinku saja. Pertanyaan demi pertanyaan acapkali bersliweran ke arahku di saat tengah asyik-asyiknya duduk dan menatap kesal bangunan itu. “Lagi ngapain, a’ ?”, umumnya seperti itu. Paling-paling kusikapi dengan senyum hambar tanpa jawaban. Terserah apa kata orang.
Bangunan tua milik para meneer yang gemar menjajah dan menghisap pribumi negeri ini. Hari ini tiada…musnah tak tersisa. Dihadapanku kini bertengger bangunan megah yang tampilannya begitu mencolok. Terlihat benar-benar berbeda diantara sesamanya. Tegak berdiri…penuh sumpah serapah.
Jiwa yang bingung mencari-cari jawaban. Butir-butir keheranan mengkristal menjadi batu terjal yang mengisi setiap ruang batinku. Sesak tak terkira. Entah kapan punya kesempatan untuk mewujud menjadi gugatan. Kesaksian yang mau tak mau harus disuarakan. Ruh penjajah belum hilang dari bangunan megah yang ada di sana, meski hilang pesona kolonial-nya. Sejatinya memang betul-betul belum hilang. Hanya bentuk yang berubah. Bukan isi, namun bentuk. Para meneer yang sempat kerasan mengkeruk harta bumi pertiwi, sekarang berganti baju. Bersembunyi dalam jubah para birokrat sekolah yang gemar memuja kata “pembangunan”.
Ruang kelas yang tergusur. Tergusurlah begitu saja. Runtuh menjadi abu bercampur debu yang tak lagi bercinta dengan peluh kelelahan para siswa di kelasnya. Justru dengan oli dan bensin yang tumpah dari kendi-nya. Perselingkuhan yang menyakitkan.
***
Namaku Sujana. Jangan repot-repot panggil namaku seutuhnya, cukup Jana saja. Anak pertama dari keluarga yang masih semangat memanjat tebing kemiskinannya. Berpacu dengan waktu…melawan segala rintangan. Bekerja keras…bisa dipastikan lebih keras dibandingkan PNS yang lebih memilih ongkang-ongkang kaki plus gaji buta. Jangkung, kurus, mata cekung kurang makan…itu aku. Jangan heran. Itu saja ?... ah tidak !. Masih ada yang lain ; insomnia. Yang terakhir ini kudapati setelah akrab bergaul dengan bangku kuliah.
Misteri terbesar dalam hidup ini, buatku justru kehidupan itu sendiri. Entah…sesuatu yang disebut roda nasib-lah yang membuatku semakin yakin bahwa hidup dan kehidupan memang sebuah misteri. Lho iya…bukankah memang harusnya seperti demikian ?. Siapa sangka darah dan daging yang bersenggama dalam sosok Sujana bisa merasakan atmosfer kampus ?. Bila bukan karena kebaikan roda nasib yang kebetulan berpihak…niscaya semua ini tak akan terjadi. Ya sudahlah…biarkanlah roda nasib itu terus melaju deras. Lepas landas dan bebas memilih siapa-siapa yang hendak dijadikan kawan atau lawannya.
Bangunan yang sedang kutatap ini dulunya adalah tempat berlabuhnya semua impian yang tertanam genit di otakku. Tak terlupakan setiap cuplikan peristiwanya. Enam tahun yang lalu. Ada Aulia, teman sebangku yang gemar sekali bercanda. Handi, si tukang basket yang selalu mampu menghidupkan suasana kelas betapapun jemunya. Teman-teman sekelas yang lain…semuanya. Ruang kelas para bintang. Percetakan manusia-manusia teladan yang dianggap akan menjadi orang sukses kala itu. Lahir di ruang kelas ini.
Aku adalah bintang kelas. Sujana si anak kampunglah yang ternyata di detik-detik akhir perjalanan SMA-nya bisa membuat semua siswa menatap kebingungan sekaligus takjub. Predikat terbaik untuk nilai Ujian Akhir Nasional se-kabupaten Purwakarta, aku yang pegang. Sujana si anak kampung. Sumringah tak terbahasakan. Aku masih ingat masa-masa indah itu. Aku—Sujana si anak kampung—yang biasanya tertunduk malu dihadapan teman-teman satu sekolah, tak lagi merasa malu saat itu. Malah kepongahan yang justru timbul-tenggelam. Perasaan geram yang tertahan selama tiga tahun bersekolah pecah sudah. Tertumpah di satu hari tanpa mampu terbendung lagi. Sujana si anak kampunglah yang justru lahir sebagai siswa terbaik di sekolah itu, bukan siapa-siapa. Tidak anak-anak kota yang selalu trendy, tapi Sujana !...Sujana si anak kampunglah yang terbaik.
Enam tahun yang lalu. Ahh…kubuang batang rokok terakhir yang kuhisap setelah hampir satu jam termenung di seberang gerbang sekolah. Kupaksakan langkahku walau terasa berat. Pergi dan mencoba untuk tidak menghiraukan kembali. Satu, dua, tiga langkah…ada tarikan memori yang kembali memaksaku untuk mengheningkan cipta sejenak. Ternyata lahan parkiran itu. Magnet yang kuat mengikat…memaksaku untuk dingin membeku. Ruang kelas yang tergusur. Lebih dihargai sebagai lahan parkiran tanpa peduli segudang prestasi yang telah digubah. Diperkosa oleh para meneer berwajah pribumi, berbaju safari khas birokrat.Ruang kelas yang tergusur. Tergusurlah.
***
Heboh pagi ini. Jerit Sirine ambulance melengking tinggi memekakkan telinga. Tersiar kabar mengejutkan. Wartawan, orang tua, bahkan Bupati pun berdatangan. Aku pun ada…menjadi penonton ke sekian yang memadati keriuhan luar biasa tersebut. Tak sempat kutengok langsung apa yang sebenarnya terjadi. Berdesak-desakkan dalam lautan manusia, jujur saja aku malas untuk itu. Simpang-siur informasi, ini-itu…ini-itu. Aku menyaksikan dari kejauhan dengan penuh rasa penasaran. Hanya bisa mendengarkan penuturan orang per orang.
Akhirnya kudapati juga titik terangnya.Oooh…ternyata begitu ceritanya…Petaka menghiasi cerah pagi ini. Ruang kelas Sekolah Dasar yang letaknya tepat bersebelahan dengan gerbang sekolah yang sombong itu ambruk berantakan. Hancur terburai…mengisahkan nestapa untuk beberapa orang tua. Isak tangis mengiringi jenazah anak kecil yang tertimpa beban jauh melebihi berat badannya. 2 siswa SD tewas terkapar di tempat, sisanya luka ringan.Ngeri seketika. Banyak tangan coba membantu. Aku diam-diam saja mengamati. Terlalu banyak orang…ramai. Kupikir sudah lebih dari cukup untuk pertolongan pertama.
Kembali melangkah ringan, terus saja berjalan layaknya hari-hari biasa. Tanpa muatan emosi apapun, enteng-enteng saja. Berbohong, padahal hati geram. Lagi-lagi terlihat gerbang sekolah yang setelah kejadian itu terasa semakin mentereng. Sesak dadaku lebih dari yang jamak kurasakan…setengah marah menggila. Kulampiaskan dengan senyum pahit menyebalkan. Kutatap gerbang berikut penjaga sekolah itu. Berbisik pelan dalam kata-kata yang sangat ironis ; ambil ruang kelas yang ambruk itu untuk lahan parkiran selanjutnya.
Purwakarta, 5 April 2008

Label:

Tentang Sekolah...Tentang Jakarta

21.57 / Diposting oleh Widdy Apriandi / komentar (0)


Siang hari, kawan. Kurang lebih seperti itu. Tapi, ah tidak !, tidak !, tidak seperti itu. Justru tepat. Ya !, jelas ini siang hari, tak lebih tak kurang. Matahari telah meninggi tepat di atas ubun-ubun, udara semakin terasa sesak, pengap, pedih menusuk rongga dada yang kembang-kempis tertekan bengisnya zaman. Panas, ya !...itu, panas. Siang hari bukan ?. Paling tidak menurut pengalamanku saja, kawan. Pengalaman turun-temurun. Buyutku bilang begitu, dilanjut ke kakek, ayah, kakak dan akhirnya meresap ke lumbung ingatanku. Aneh memang, tapi ya…sudahlah.
Harap dimaklum, kawan. Tak tahu aku itu soal putaran jam. Soal huruf, soal angka, ah !...misteri. Tak ada itu !, tak pernah sekalipun Bapak cerita soal itu. Kami tak ambil peduli, dingin. Biarlah alam bicara apa adanya. Siang itu berarti panas, terang benderang…dan beberapa hal yang kuketahui pasti ; guyuran keringat, pegal di tangan dan kaki akibat seharian mengolah sawah milik juragan Tommy yang konon tinggal di Jakarta—negeri yang kata Bapak gemerlapan, meriah sejadi-jadinya. Itu !, sebatas itu saja pengetahuanku kawan soal siang hari.
Dan, ah !...ya !…satu lagi ; soal malam hari, kawan !. Perkara itu aku tahu. Jelas Bapak yang cerita…bukan mantri, lurah apalagi Pak guru yang sampai saat ini hanya kukenal dari obrolan warung kopi anak-anak sekolah Inpres. Lagi-lagi, pengalaman saja yang membuatku paham tentang apa itu sesuatu yang disebut malam hari. Sederhana, kawan. Begini, begadang semalaman di gubuk dekat sawah juragan Tommy bersama hawa dingin dan pekatnya malam yang kadang bikin bulu kuduk merinding, berjaga-jaga khawatir ada orang yang nekad memutar jalur air irigasi yang membasahi sawah juragan. Itu !, itulah malam hari. Sudah kubilang dari tadi bukan ?!, sederhana !.
Anak-anak Inpres seringkali cekikikan tiap kali kubuka persoalan siang dan malam itu tadi. Tolol mereka bilang, telunjuk mengarah angkuh tepat ke mukaku. Setelah itu biasanya bergantian mereka melemparkan ejekan demi ejekan. Kurasa-rasa, temponya teratur, tak jauh berbeda seperti embikan kambing. Buta huruf !...tak lama…Kampungan !. Kemudian suasana mendadak riuh layaknya pesta-pesta Jakarta yang Bapak ceritakan kepadaku. Entah kenapa mereka tertawa, terus terang aku tak tahu. Manusia terbelakang !...tak beradab !. Tertawa lagi…heran lagi aku dibuatnya.
Pacul masih tergenggam kuat di tangan. Sembari menyeka keringat yang mengalir begitu deras, aku merenung, mencari serpihan hikmah dari hidup yang kujalani. Tolol, buta huruf, kampungan, manusia terbelakang, tak beradab…suara-suara sumbang anak-anak Inpres. Disela-sela tarikan nafas yang terasa berat, kucoba berani menyimpulkan sesuatu yang bahkan tak kumengerti sama sekali ; itukah arti sekolah ?!.

***
Bapak diam saja sedari tadi, tanpa kata atau bahkan sekadar sapa kecil Bapak kepada anaknya. Hening, bisu, itu saja. Tak seperti biasanya, entah apa yang sedang dipikirkan Bapak. Cicit centil suara burung yang lalu lalang, semilir angin panas yang tak tahu diri…berlalu, mondar-mandir seperti arus lalu lintas yang sempat kulihat dengan penuh ketakjuban sewaktu menikmati tontonan manusia aneh yang bergerak-gerak persis di layar. Misbar, Gerimis Bubar, kira-kira seperti itulah namanya. Sapaan akrab untuk hal yang demikian itu. Intinya seperti itulah, aku tak mau bertele-tele. “Biar anak-anak Inpres yang pusing memikirkan tetek bengek penjelasan ini-itunya”, bisik suara batin yang tak jelas apakah lirih ikhlas nrimo atau malah tak percaya diri.
Tampak seperti ramai memang, tapi tidak. Jelas-jelas aku menunggu, menanti sesuatu yang tak pasti juga apa gerangan itu. Tak pasti…ya !, namun kutahu itu lebih menggelegar dari segala keramaian. Suara bapak…cerita bapak tentang apapun yang dia ketahui dan lantas dibaginya khusus untukku. Potongan-potongan kisah yang selalu punya arti tersendiri, meski bagi anak-anak Inpres itu sepele.
Kutatap wajah Bapak, terlihat murung kehilangan gairah. Sorot matanya kosong. Berkedip sekali-kali, namun berat. Jauh dari kelincahan yang ditampilkannya sehari-hari. Seperti mencari sesuatu, dipandangnya apapun di arah kiri dan kanannya. Liar, bingung. Padahal sawah, hanya sawah tempat bergantungnya nasib kami dari masa ke masa.
“Nak...”, mulai Bapak bicara. Kutangkap jeli getaran simfoni dukanya.
“Parmin, anak si Sadli…dia pergi ke Jakarta besok. Kerja katanya…”, deras kata-kata Bapak tiba-tiba terhenti. Terganjal. Sejenak ditariknya nafas dalam-dalam, sekadar melepaskan secuil beban perasaannya mungkin. “…lepas dari Sekolah Inpres, Sadli bilang…Parmin dicarikan kerja oleh pamannya. Bayar tukang catut pabrik, Parmin diterima. Urusan mesin begitulah katanya, Nak. Upahnya besar, lebih dari lima ratus ribu. Hebat itu si Sadli…” , lagi-lagi tuturan curahan hatinya terpenggal di tengah jalan.
Sebatang rokok diambil Bapak dari kantong celananya. Kepulan asap putih yang serta-merta bergabung bersama angin seakan menjadi saksi kepedihan yang sedang ditanggungnya. Mengapung tinggi, semakin tinggi. Sontak hilang, sirna seakan menandai pupusnya harapan seorang Bapak. Masih saja aku terpaku, berpikir keras mencerap segala hal yang dibicarakan Bapak. Tak berani aku menjawab, lebih baik membisu.

“…maafkan Bapakmu ini, Nak. Tak mampu Bapak menyekolahkanmu…ke sekolah Inpres seperti anak-anak yang lain. Seperti si Parmin…bekerja…ke Jakarta…dapat upah !”, luapan emosi campur aduk dalam kata-kata yang meluncur dari mulut Bapak. Pecah, membludak begitu saja penuh tekanan. Tidak lagi putus-putus seperti sebelumnya, kali ini benar-benar berbeda. Tegas, namun miris. Hentakan suaranya lebih mirip pernyataan keputusasaan daripada kehilangan. “Ah...Bapak”, jerit batinku yang tanggap menyelami samudera derita Bapak.
Sempat kulihat tetes air mata Bapak dalam langkahnya kembali ke sawah. Tak sanggup rupanya dia menahan sesak di hatinya. Lelaki tua yang sedang kucermati ini…dia menangis. Tangis kekalahan manusia di tengah arena pertandingan yang disebut kehidupan.
Sendiri. Kuteruskan perbincangan ini bersama alam. Berdialog, membuka makna sekolah. Setelah celaan yang tempo hari dilontarkan anak-anak Inpres kepadaku, sekarang Bapak yang dirundung malang. Gara-gara sekolah, kemudian kerja, terus upah…Bapak terluka.

***
Musim panen tiba, kebahagiaan bersemi tanpa perlu dipinta. Seantero kampung bergembira, wajah sumringah para buruh penggarap sawah menguap tanpa ampun. Disana-sini, meriah sekali. Selalu ada cerita yang mengisi hiruk-pikuk kehidupan kampungku. Selain kisah sehari-hari tentang buruh penggarap, para juragan dan sawahnya tentu saja… silih berganti cerita demi cerita datang dan pergi. Ramai Parmin jadi buah bibir kemarin, semua tahu dari ujung ke ujung. Tentang kepergiannya ke Jakarta, siapa yang tidak menyempatkan diri untuk turut serta berwacana ?.

Kini tak ada lagi. Tergusur. Parmin tak lagi terangkat namanya sebagai bahan pembicaraan orang sekampung. Musim panen membawa ceritanya sendiri. Dari tahun ke tahun…sama saja, selalu itu. Juragan Tommy, melulu beliau yang hadir dalam setiap obrolan. Dari kelurahan sampai ke warung kopi, Juragan Tommy lagi…Juragan Tommy lagi.

Bagaimana tidak ?, juragan Tommy yang baik hati itu…dibagi-baginya berlembar-lembar uang kepada seluruh buruh penggarap yang bekerja di sawahnya. Tiap kali musim panen, sungguh beliau orang yang murah hati. Berkah musim panen, kata beliau, “harus dibagi…biar semua senang”. Kami bersyukur, sesekali melontarkan kekaguman yang tak terkira untuk beliau.
Juragan Tommy…orang Jakarta. Baik hati dia itu. Ingin aku pergi ke Jakarta…jadi orang Jakarta seperti Bapak bilang. Menyusul Parmin, menguji peruntungan di tanah harapan. Kalau juragan Tommy saja baik hati begitu, artinya orang Jakarta memang baik semua. Kubagi-bagikan nanti uang untuk orang sekampung setelah jadi orang Jakarta. Mungkin…suatu saat nanti...entah…

***
Juragan Tommy tidak datang sendiri. Musim panen ini turut serta pula saudara kandungnya, juragan Bambang. Gagah dan berwibawa, seperti itulah gambaran sekilas sosok juragan Bambang yang setengah malu-malu kutengok dari kejauhan. Sulit untuk melihat mereka berdua, orang sekampung berjejal-jejal ingin menyaksikan tokoh yang telah memberikan kesempatan untuk merasakan nikmatnya makan tiap hari walau serba seadanya.
Kehadiran juragan Bambang…dalam sikap, lirikan mata hingga ke langkah kaki yang dipertontonkan ke khalayak ramai menambah sedikit perbendaharaan kesanku tentang orang Jakarta. Hebat, luar biasa. Ditambah mobil mewah dan puspa ragam peralatan yang disandangnya…ah !, otakku semakin menggila memikirkan alam raya yang disebut Jakarta. Parmin jelas tahu itu, Jakarta…dia tahu. “Punya kesempatan jadi orang hebat si Parmin itu”, bunyi suara hatiku yang terdengar seperti meronta-ronta. Esok atau lusa, bulan depan, tahun depan…kampung ini mungkin punya juragan baru, juragan Parmin.
Balai desa ramai dipadati orang sekampung. Pak Lurah memberikan perintah kemarin, orang sekampung harus hadir ke balai desa untuk kepentingan silaturahmi dengan juragan Tommy dan saudara kandungnya. Dialog, seperti itulah istilah yang sampai dari mulut ke mulut. Apapula itu dialog, aku tak tahu. Hanya manggut-manggut saja aku ketika Bapak menyampaikan perihal itu selesai membenahi peralatan kerja sawah kami kemarin sore.
Acara resmi dibuka oleh juragan Tommy. Setelah sambutan Pak Lurah yang begitu hangat, sepatah dua patah kata Pak camat yang alamak begitu panjang hingga pantat terasa beku, juragan Tommy angkat bicara. Tak banyak apa dan apa, itu yang kusuka. Singkat saja waktu bicara yang dipakai juragan Tommy. Selesai mengucapkan salam, masih kuingat beliau bilang begini, “mari kita buka acara ini dengan mengucapkan basmallah”. Luar biasa !. Tak seperti Pak Camat yang terlihat makin pikun dan mengerikan itu, lama dia bertutur kata. Tak sampai pula di otakku apa yang dia maksud ; ekstensifikasi pertanian-lah, modernisasi, etos kerja, kemandirian komunal. Sulit dimengerti, paling tidak olehku. Bapak tak pernah cerita masalah itu. Namun begitu, hal itu tak menghalangi niatku untuk turut serta bertepuk tangan untuk beliau setelah rampung pidatonya. Meski banyak sesal membuncah-membuncah di dalam hati, meski terjal kerikil perasaan mengganjal di benak serta otakku. “tak paham aku itu, Pak…apa maksud bela negara, sedang negara pun tak pernah kusadari bagaimana rupanya”.
Juragan Tommy menyapa para buruh penggarap sawahnya. Berbincang-bincang santai. Tanpa prasangka, lurus-lurus saja. Pak Sadli ditanyanya, bagaimana perkembangan keluarganya sebagai salah seorang mandor buruh tani kepercayaannya. Seperti baru saja mendapatkan utangan, Pak Sadli semangat mengisahkan segala hal yang berkenaan dengan pertanyaan itu, “Anakku, juragan… Si Parmin…telah lulus sekolahnya. Di sekolah Impres, juragan…Impres begitulah kata si Parmin. Dia bekerja, juragan…di jjjjj…Jakarta. Jakarta, juragan”. Si penanya diam saja, tak bergeming dengan kilatan sejuta cahaya kegirangan yang meluncur dari mulut Pak Sadli. Turun naik kepalanya, mengikuti setiap petak cerita yang dirangkai Pak Sadli. “Ya…Ya !. Terus cerita, Sadli…terus…”, mungkin demikianlah pesan yang bisa kutangkap dari gerakan kepala juragan Tommy yang kurekam.
“Inpres Sadli !...Inpres !...bukan Impres !. Tapi, ya…sudahlah. Mulia kau itu bisa menyekolahkan anakmu. Apalagi sampai lulus, sampai kerja…di Jakarta !. Bravo !. Hebat kau, Sadli”, hadirin terhenyak dari lamunannya. Suara juragan Tommy memecahkan kebuntuan suasana di ruangan ini.
Ada yang memulai tepuk tangan. Satu orang, dua orang, sampai Bapak dan akhirnya aku. Semua hadirin tepuk tangan, suka ria. “Hidup Sadli, Hidup Parmin !”, melintas suara bising dari arah belakangku. “Sekolah !...sekolah !...Kerja !...Jakarta !”, balas teriak orang lain dari arah yang tak jelas. Juragan Tommy tersenyum puas kini. Bangga boleh jadi, karena ada anak mandornya yang bisa lulus sekolah dan akhirnya bekerja di Jakarta. Beliau ikut tepuk tangan, mengamini dan larut dalam suka cita bersama.
“Dan…ah !...kau !...ya !...kau…siapa namamu ?”, juragan Tommy kembali mencoba membuka perbincangan. Riuh tawa yang tadi sempat bergelombang di Balai Desa, tergerus makin tipis kini. Lama-lama sepi, tak lagi bising. Tak lagi ada yang berani berbicara apalagi menjerit keras seperti tadi. Tak ada. Tinggal juragan Tommy dan yang ditanya, pusat perhatian semua orang.Mencekam. “ya !...kau !...siapa namamu pak tua ?”, tandas juragan Tommy kembali. “Sapardi…Juragan”, lemah suaranya, tak seperti letusan suara juragan Tommy yang penuh rasa percaya diri.

Pak tua yang dimaksudkan juragan Tommy ternyata adalah bapak, lelaki tua yang semakin kurus saja. Wajahnya mendadak pucat. Bibirnya kaku, semu beku. Tegang dia memandang juragan Tommy.

“Kau punya anak Pak tua ?!”, tanya juragan Tommy.

“Ppp…punya, juragan. Satu saja. Suhadma namanya”, jawab Bapak.

“Sekolah dia ?”, layaknya hakim agung, juragan Tommy menyarangkan pertanyaan khusus untuk sang tertuduh…Bapak.

“……….”, tak menjawab apa-apa Bapak. Hanya diam, murung sembari menggulung punggungnya hingga nyaris seperti kura-kura.
Dunia boleh saja iri dengan apa yang terjadi di ruangan ini. Seakan tinggal dua manusia saja yang kebetulan hinggap di bumi. Juragan Tommy, Bapak…sebuah klise tragis yang masih tetap saja ada, walaupun ada sosok lain yang konon lebih arogan. Kutahu itu dari Pak Camat…negara.
Mungkin Bapak sadar bahwa dirinya terhimpit, terdesak oleh sebuah pertanyaan yang mau tidak mau harus dijawabnya. Bapak sadar pula mungkin, semua orang menanti jawabannya. Bukan saja juragan Tommy, bukan saja Pak Sadli…kesaksiannya dinanti oleh semua orang di kampung ini yang sekarang menjejakkan kakinya di balai desa. Kesaksian orang kampung…kesaksian seorang manusia yang pengertiannya tentang dunia terkurung oleh suatu kenyataan bahwa yang ada di hadapannya adalah petakan tanah berhektar-hektar yang harus digarapnya demi sekadar bertahan hidup.
“Tidak, juragan….anakku tidak sekolah”, jawab Bapak setelah cukup lama dia membatu.
Juragan Tommy tersenyum kecut, sehingga kontan lebih mirip seringai serigala. Mimik muka yang sungguh aneh sebetulnya.
“Ah !...Sapardi. Manusia udik…Sapardi…ah !”, jawaban Bapak dibalas dengan letusan kata-kata yang cukup memekakkan telinga. Setengah melotot juragan Tommy di waktu melepaskan kata-kata itu.
Juragan Tommy tertawa. Keras…keras sekali. Disusul Pak Sadli, disusul pula oleh orang banyak di belakangku. Semua tertawa…terbahak-bahak.
Balai desa sepi. Tinggal aku dan Bapak yang masih belum beranjak dari tempat duduk. Malu Bapak…merasa ditelanjangi begitu rupa. Kini semua orang tahu…Sapardi, Bapakku…manusia udik. Kuulas kembali, manusia udik…karena tak mampu menyekolahkan anaknya.

***
Bapak belum lagi kuat kembali ke sawah. Beberapa hari ini dia sakit, terkapar dia di tempat tidurnya. Beberapa hari ini pula kugarap sawah juragan Tommy sendiri, tanpa Bapak. Kasihan Bapak…terputus sejenak kesempatannya untuk bercerita tentang apa saja kepadaku. Lebih dari itu, kasihan juga Bapak…tak mampu dia berkumpul di balai desa hari ini. “Ada berita besar yang harus disampaikan ke semua orang kampung”, demikian kata Pak Lurah. Berita apa, aku tak tahu. Sejujurnya tak ada yang tahu. Tak ada desas-desus, kali ini berbeda. Berita itu akan disampaikan langsung oleh orang berseragam yang selama ini kukenal sebagai tuan Kapolsek. Lagi-lagi itu juga kata Pak Lurah yang kebetulan berpapasan denganku siang tadi.

Orang-orang sekampung pun berkumpul, sesuai dengan permintaan Pak Lurah dan tuan Kapolsek. Tanpa sambutan yang membuat badan pegal, acara langsung diawali dengan uraian dari tuan Kapolsek. “ada tembusan dari kepolisian Jakarta sana. Parmin…jadi buronan. Setelah mencuri barang di pabriknya, Parmin terlibat dalam tragedi pembunuhan bosnya. Kawan-kawannya sudah ditangkap, di penjara. Parmin belum. Jadi…kuharap bapak-bapak sekalian bisa bantu kepolisian. Lapor ke Polsek kalau-kalau Parmin datang ke kampung ini…”, tutur Kapolsek.
Tanpa tawa, tanpa tepuk tangan…acara pertemuan ini bubar begitu saja. Tersisa pertanyaan di benakku…tentang sekolah, tentang Jakarta. Tak berani aku bercerita ke Bapak ihwal kejadian ini. Biar Bapak saja yang ceritakan semuanya nanti.
Sore menyapa seisi kampung. Kulangkahkan kaki untuk pulang ke rumah bersama Pak Lurah. Melewati sawah yang biasa kugarap, kupaksakan niat untuk bertanya kepada Pak Lurah, “apa maksud papan yang menandai sawah juragan Tommy itu, Pak ?”
Enteng jawaban yang ditandaskan oleh Pak Lurah, “Oh…TANAH NEGARA, nak !”.


Purwakarta, 24 Maret 2009

Lorong Sepi Proletariat – Purwakarta

Label:

Ibu...Aku Ingin Mengubah Bintang

07.21 / Diposting oleh Widdy Apriandi / komentar (0)

Bagaimana kabarmu hari ini wahai para tukang jagal ?!, jerit batinku mengabarkan rintihannya tiap kali menemui pagi demi pagi (tanpa terkecuali pagi ini). Pertama kali memang kurasa aneh, janggal. Tapi seterusnya tidak, biasa-biasa saja. Mereka memang tukang jagal toh…tak ada sanggahan sama sekali !. Jelas mereka itu tukang jagal !. Bengis, penghisap. Itu aku tahu, aku sadar. Dan… ya !...aku terbiasa (paling tidak terbiasa memanggil mereka dengan sebutan tukang jagal).

Mungkin kalian dengar berita itu. Ya !...ya !...itu !...berita pagi yang biasa kalian dengarkan sembari mencicipi suguhan sandwich gaya Amerika plus camilan kue kering yang semakin menggugah selera makan. Kalian bicarakan kemiskinan, kalian bicarakan nasib berjuta-juta rakyat miskin di dunia. Di meja makan !...di meja makan !. Ah…betapa paradoks...munafik !. Maaf bila sesekali waktu nalar ini lancang melejit genit mengatakan bahwa kalian tidak lain adalah mereka yang kusebut tukang jagal. Itu aku tahu, aku sadar…maaf.

Tentang buruh wanita yang tewas dianiaya majikannya di negeri seberang, kata si penyiar berita di televisi. Dijelaskan pula, Marini namanya. Bla…bla…bla…banyak lagi kisah tak jelas lainnya. Diungkap begitu lugas, tanpa beban.

Kukatakan, Itu wacana saja. Wacana !...biar tak meluas, biar tak terpotret apa yang sesungguhnya terjadi. Versiku, buruh wanita yang dibantai manusia tak bermoral. Memar-memar yang membiru…menghiasi tubuh si wanita. Belum lagi sisa-sisa kekejian setrika panas di kulit yang mempertontonkan kesaksiannya. Kuhitung…satu, dua…ada puluhan luka yang tersebar di sekujur tubuhnya. Aniaya ?!...ah !...kalian bercanda. Kenapa tidak pembantaian yang kalian ucapkan ?!. Rupanya kalian malu…malu untuk mengakui bahwa bangsa ini tak lagi dipandang memiliki harga diri, sehingga bisa seenaknya diinjak, ditinju, dijamah, disiksa sedemikian rupa !.

Marini…dia ibuku. Tewas dia di tangan si tukang jagal. Pergi dia, hilang dia…begitu cepat. Tiada apalagi, sesuatu pun…tinggal kenangan. Lenyap…menyisakan sesak dan duka yang begitu mendalam buatku dan seluruh sanak saudaranya.

Kutatap wajahnya. Beku, dingin tanpa sepatah kata jua. Aih…tapi masih kulihat titik-titik cahaya yang berpendar begitu indah. Bersembunyi dia dibalik luka-luka…di wajahnya. Malu-malu…atau, ah !...mungkin memang nyaris sirna ditarik gelombang kesedihan yang pucat pasi. Remang-remang…cahaya itu tak seterang dulu. Terkikis dia…menipis, luntur dihempas badai siksaan yang menggoncangkan jiwa.

Kuberanikan untuk bertanya…lirih nadanya, “Kenapa bu…kemanakah kini kau pergi ?!”. Setelah lebih dari tiga tahun kau tinggalkan aku…menggedor kantong-kantong peruntungan di negeri sana, kini kau kembali pergi. Kutahu kau tak akan kembali lagi…tak akan pernah !. Tak sempat lagi kita berbicara, meski hanya sekadar barang beberapa menit saja. Tentang ayah, bu !... ya !...tentang ayah yang meninggalkan kita jauh-jauh hari. Kau ingat, bu ?!. Bukankah itu alasan yang membuatmu tegar mengambil keputusan untuk pergi ke negeri antah berantah itu ?!. Aku ingat, bu !...selalu !. Kau kecup keningku sembari mengingatkan, “ayahmu pejuang… dia pergi di sela perjuangannya. Dia mati berjuang, bukan berharap !”. Aku ingat, bu !...aku ingat !. Kusimpan rapi memori wajahmu yang kusut didera kesedihan yang menghunjam begitu dalam kala itu. Kurasakan deru jantungmu yang berdetak cepat penuh kegelisahan…menanti ujung cerita nasib lelakimu yang tercinta. Kita berbagi lara, bu !. Di rumah sakit…kutinggalkan sekolah yang membuatku semakin bodoh saja dari hari ke hari. Kita menanti kabar penuh harap dari dokter. Lelakimu terkapar parah…peluru menancap di lambungnya. Padahal dia hanya berteriak-teriak meminta haknya…hak seorang manusia buruh pabrik yang ingin hidup layak. Lelakimu cuma berteriak saja !, tidak menjarah…tidak merampok !. Dia menagih hak, kenapa harus peluru yang menjadi jawabannya ?!.

Kau ajak aku mengagumi bintang di langit. Di halaman rumah kita yang serba sederhana…kau raih tanganku, lantas kau dekap aku dengan mesra. Kulihat tetes air mata yang sengaja kau tumpahkan. Suaramu berat, parau. Tak berani kutatap parasmu, kutunggu lantunan not demi not nada-nada sumbang yang mencerminkan isi hatimu. Pikiranku melayang-layang kesana-kemari…menembus pekat malam yang hitam. Kau lemparkan emosi, aku diam sekadar mencoba untuk paham. Aku ingat, bu !...aku ingat !. “bintang yang paling terang itu adalah ayahmu. Dia melihat kita, dia menjaga kita. Dalam do’anya, dalam harapannya…dia terus ada”, itu kata terakhir yang meluncur dari mulutmu sebelum kita akhiri jamuan sendu malam itu.

Ibu, Marini-ku…kau begitu cantik. Dalam balutan kain putih seadanya ini pun kau masih terlihat mempesona. Kutitipkan amanat kepada para malaikat, jaga dia yang melulu ingat kepada Tuhannya. Kusampaikan salam kepada Tuhan, rahmati dia dengan kalung surga…buah dari segala manifestasi kesabarannya, padi yang seyogyanya dia panen dari setiap langkah, tetes keringat hingga darah yang dikorbankannya untuk orang-orang yang dicintainya.

***

Ibu…aku ingin mengubah bintang. Kutahu kaulah yang menyapaku dari atas sana. Bersama ayah, saling bergandengan tangan…kau torehkan sejuta senyum yang kutahu hanya untukku saja, anakmu. Salam takzimku untukmu. Bersama bintang…itu cahayamu !.

Ibu…aku ingin mengubah bintang. Kusucikan dirimu lewat gubahan bintang kejora yang memerah panas…simbol arti hidup yang kau bingkiskan untukku ; hidup tiada lain adalah perlawanan !.

Lewat dari satu bulan sudah mesin pabrik terhenti. Para buruh mangkir bekerja. Kami ingin hidup layak setelah lebih dari pantas kami diperas. Tak percaya lagi kami pada tiap konsesi. “Tukang jagal adalah tetap tukang jagal”, jerit prinsip yang menderu-deru di lorong batinku. Aku…Murdani…sang penggubah bintang kejora. Ramai-ramai para buruh berteriak lantang…ramai-ramai ciptakan dunia baru. Tukang jagal harus dijagal !.

Purwakarta, 12 April 2009 Lorong Perenungan Proletariat-Purwakarta
(karya ini didedikasikan untuk Marsinah dan Wiji Thukul. Jelang May Day…inilah persembahanku untuk kalian—sosok ibu dan ayah ideal yang mengangkat kebisuan dari muka bumi. Terima kasih untuk Es. Ito, kupinjam quote-mu, sama-sama kita lahirkan Negara Ke-Lima )


Label:
Adsense Indonesia