Lelah. Hanya mandi dan mandi saja yang berkelebat di alam pikiranku. Klakson mobil sengaja kubunyikan tepat di depan gerbang rumahku. Tak lama, Pak Wiji tampak dalam tampilan yang kusut masai. Ya, maklum jam 12 malam. “Gan…”, sapanya. Kujawab dengan anggukan kepala saja, dingin sekali karena mood-ku memang sedang tidak memungkinkan untuk gerakan-gerakan tebar pesona.
Mbok Mirah menatapku sesaat sewaktu aku memasuki ruangan utama rumahku yang luas dan terang-benderang. Aroma kemegahan begitu lekat dengan segala properti yang ada di sini. Jam dinding yang bertahtakan emas (konon dibeli Papih di London), Tv set yang lengkap dengan ornamentasi elektroniknya, mebel-mebel antik import mancanegara, semuanya tertata rapi dan mengumbar kesan gagah. Luar biasa kupikir kerja keras Mbok Mirah yang bertanggung jawab atas kebersihan dan kerapihan ruangan ini. Termasuk saat ini, tatapannya menyiratkan sense tanggung jawabnya terhadap majikannya.
“Belum tidur, mbok ?”, tanyaku singkat sambil mencopot sepatu.
“Sudah gan, tapi bangun tadi karena dengar suara mobil juragan. Ada yang perlu mbok siapkan, gan ?, jawabnya dalam suara yang parau.
“Hmm…ngga, mbok. Terima kasih. Tapi, ngomong-ngomong…Papih dan Mamih belum pulang mbok ?”, sekadar mengomentari ucapan Mbok Mirah, kutanyakan pula kabar Mamih dan Papih kalau kebetulan mereka sempat menitipkan kabar. Sudah hampir satu minggu ini Papih dan Mamih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Papih dan Chicago sudah bukan hal yang aneh lagi buatku. Bisnis garmen yang dijalankannya memang selalu menuntutnya untuk begitu. Termasuk juga kehendak kerasnya untuk menyekolahkanku ke negeri paman sam sana, bukan sekali dua kali dipaparkannya dengan begitu panjang lebar sampai akhirnya lelah sendiri karena aku toh lebih ingin melanjutkan pendidikan di sini. Tak jauh berbeda seperti Papih, Mamih adalah sosok wanita pekerja keras yang kadang-kadang kunilai hampir mirip Margaret Thatcher. Keras, namun tetap elok menjaga dimensi keperempuannya. Politisi perempuan, begitu tepatnya. Sebagai bagian dari lingkaran elit parlemen nasional, entah...terkadang kurasakan dirinya dililit oleh pekerjaannya sendiri.
Mbok mirah membalas pertanyaanku tadi dengan bahasa tubuhnya yang lugu dan sederhana, menggelengkan kepala yang kupersepsi sebagai simbol “belum”. “Ah...kembali sendirian si anak semata wayang ini dan memainkan peran pangeran tampan yang kesepian. Sssh…cerita lama !”, monolog ini lantas mengemuka di batinku. Ngeloyor tanpa permisi, kuteruskan langkahku.
Sampai di ruangan kamarku, segera kuambil handuk dan menyegerakan mandi demi membalas lengket keringat dan kepenatan yang kurasakan seharian tadi. Ah, di bath tub ini kumanjakan diriku dengan sengaja berlama-lama berendam di air yang hangat-hangat kuku. Sampai tuntas, sampai seluruh badan terasa segar.
Alunan nada mellow nan cantik yang keluar dari saxophone Kenny G mengiringi aku yang sedang merapikan diri selepas mandi. Dalam balutan busana piyama high class yang kini kusandang, kusempatkan mematut-mamut diri sebentar di cermin. Betapa kulihat wajah Mamih dan Papih di sana. Sungguh aku rindu mereka.
Kuraih laptop yang tersimpan rapi di tas, kembali kutulis catatan harian yang kupikir itu keren dan universal alih-alih mutlak hak monopoli perempuan saja dalam tradisi ber-diary-nya :
Dan begitulah waktu berlalu...tiba-tiba aku tepat berdiri di gerbang impian yang memang selalu terbayang di otakku semenjak kecil ; pemain sepak bola profesional. Betapa bahagianya…sampai-sampai aku dan Mario tak mampu menguraikan itu dalam bentuk kata-kata. Hmmmm...bangga-kah mamih dan papih dengan capaianku ini ?. Oh…atau jangan-jangan mereka lebih ingin melihatku dalam rupa “Aldo” di dunia yang mereka karang ?. Bagaimanapun…ah !... sungguh aku rindu mamih dan papih. Bagaimanapun...begitu kuat hasratku untuk mengumumkan berita gembira ini langsung dihadapan mereka. Ya, paling tidak toh aku sudah berbuat sesuatu untuk mereka…mencoba membuat mereka bahagia dengan apa yang bisa kulakukan, jujur, bukan basa-basi.
Setahap lagi…dan aku yakin semua itu bisa kulewati !. Visi itu terang tergambar di mataku. Ya, tahapan seleksi yang nanti akan kuhadapi dapat kulewati dengan mudah semudah final kejuaraan sepak bola kemarin. Aku, Mario akan lolos dan melenggang santai ke dunia baru ; sepak bola profesional. Itu pasti !. Berbekal keyakinan dan potensi yang kami miliki...tahapan seleksi itu tidak lain hanya sebatas formalitas yang harus kami jalani sebagai bintang lapangan yang nantinya akan selalu dekat dengan decak kagum para supporter. Ya, kami akan terus melenggang...terus, terus, meninggi sampai ke Senayan sebagai pemain tim nasional Indonesia. Indonesia akan mencatat sejarah kami sebagai pemain sepak bola muda yang penuh talenta dan mampu memberikan prestasi untuk negerinya.
Segalanya jelas begitu berbeda semenjak momentum bersejarah yang menyatakan Muttaqien United sebagai jawara. Aku dan Mario sontak menjadi public figure yang tak henti-hentinya dielu-elukan sebagai pahlawan di kampus. Siapa tak kenal aku si “wakabayashi” yang hanya kebobolan lima gol selama kejuaraan ?. Kemudian, siapa juga yang tak kenal bomber maut Muttaqien United yang bernama Mario ?. Kalaupun ada yang tidak kenal, rasa-rasanya itu karena memang mereka tidak banyak bergaul saja. Selebihnya, boleh jadi karena mereka terlalu serius meladeni rutinitas perkuliahan yang mengakibatkan mereka terpinggirkan dari kenyataan. “Ironis, bukan ?!”, selalu kalimat itu yang kulemparkan ke muka kawan-kawan yang kebetulan turut nebeng makan gratis di cafeteria kampus.
Kuparkir Honda Jazz hitam metalik yang biasa kubawa setiap hari di parkiran kampus. Sebagaimana pemandangan umum dari hari ke hari, suasana kampus riuh dipadati banyak mahasiswa-mahasiswi yang lalu lalang. Sesekali, kutangkap wajah-wajah sendu kawan-kawan sekampus yang mungkin sedang terbebani tugas kuliah yang begitu menumpuk. “ahhh !...teori !!!, tugas-tugas melulu macam buruh saja!”, celetukan jahil itu tak sempat menemui bentuk lisannya. Sejujurnya, justru hanya menjadi angin lalu yang bergemuruh di hatiku. Sungguh potret kehidupan kampus yang sangat tidak menarik ; kuliah, tugas, kuliah, tugas.
Apa yang justru exciting menurutku adalah kongkow gaul di cafeteria kampus, pasti !. Ngobrol bebas, listing cewek cantik yang ada di kampus bersama kawan-kawan…ah !, sungguh itulah sesuatu yang membuatku betah berada di kampus. Belum lagi bila ditambah celotehan si Mario yang ngocol berat, semakin kerasan saja aku berlama-lama menghabiskan waktu di sini. Terkadang aku mengkhayal, bila saja hiruk-pikuk perkuliahan di kelas sama sebanding dengan apa yang biasa kutemui di cafeteria, jelas tak ada kewajiban semester pendek yang sepertinya emoh untuk menyingkir dari diriku walau untuk satu semester saja. Termasuk juga hari ini di waktu aku duduk sendirian di meja favorit yang biasa ramai diisi kawan-kawan, lamunan itu tetap ada. Andai…ya, andai…pasti segala sesuatunya akan terasa lebih mudah dan menyenangkan. Tak terasa satu gelas jus alpukat bersama camilan kentang goreng sudah habis kunikmati. Menatap sekitar, kunanti kehadiran manusia-manusia ajaib yang seharusnya sudah ada disini sedari tadi.
“Hallo…oooo, Aldo ?”, sapaan itu hadir dari perempuan yang berjalan anggun tepat di hadapanku. Langkahnya pelan sekali seperti kilas slow-motion di film the matrix yang kutonton tempo hari. Begitu mempesona, atmosfer Cleopatra mutlak digenggamnya.
Sungguh mengejutkan tentu saja. Detak jantungku berdegup begitu kencang. Waktu seperti terhenti di detik-detik kehadirannya. Terhisap malah boleh jadi oleh kecantikannya, sehingga malu untuk berputar. “Hai…”, kubalas sapaannya sembari menawarinya untuk duduk semeja. Hanya senyum yang dia berikan, tanda penolakan halus untuk tawaran yang kulemparkan.
Namun, entah…tiba-tiba cafeteria ini menjadi sangat cemerlang, gemerlap, berbunga-bunga. Setelah senyum penuh makna itu…gerakan tangan yang dibentuk mirip telephone dari si perempuan dialamatkannya untukku. Dia pun berlalu santai seperti tak ada beban tanggung jawab apa-apa untuk aksi yang telah ditunjukkannya kepadaku. Aku yang jelas-jelas ditelantarkannya hanya bisa tersenyum simpul sendirian. Bahagia…bahagia sekali. Vena si bintang kampus, perempuan yang selalu terbayang di benak seluruh mahasiswa di sini…dia…dia…menegaskan sinyal pendekatan yang jelas harus segera kurespon (hanya orang gila saja kupikir yang rela melepaskan kesempatan ini).
Kebahagiaan sesaat itu pun pecah oleh teriakan gerombolan genderuwo yang memang sudah kutunggu kedatangannya sejak tadi, “Woi…sob…woi…Aldo !”. Putaran waktu yang sepertinya terhenti di detik-detik kemunculan si Cleopatra beranjak ke keadaan yang seperti biasanya lagi. Ah !, bergerak menjemukan. Bunga-bunga yang sebelumnya kulihat bertebaran di sana-sini…aih, aneh… berganti dia sedemikian cepat menjadi tampilan wardrobe film daun di atas bantal yang masih kusimpan potongan-potongan klipnya di memori otakku. Berubah…ah !...betapa malasnya kembali memijakkan sukma di tanah keras kehidupan. Vena…vena…sensasi itu makin meredup dan kemudian sirna sama sekali.
“Heh…bengong aja lu sob ?”, tepukan ringan Eko di pundakku memaksaku untuk yakin bahwa aku memang sedang berada di tengah pusaran realitas yang minus eksistensi Cleopatra si Heart Breaker.
“Iya nih…siang bolong gini masih mimpi aja lu ah. Bangun !...Bangun !”, suara lantang khas orang seberang yang dimiliki oleh kawanku yang bernama Andi ini kontan membuat meriah suasana karena diamini oleh kawan-kawan yang lain ; Ridwan, Marco, Putu dan Hasyim.
“yeeh…sirik aja lu mah…udah sana pesen makanan !”, tegasku pada gerombolan genderuwo yang sudah kuketahui pasti tabiatnya bila sudah berkumpul satu meja denganku.
“Okeee…siap, bos !!!”, suara itu serempak mengudara bak koor penyanyi latar. Maka, karnaval bunyi-bunyian sendok, garpu yang dipadu dengan harmoni gelas dan piring pun tak dapat dihindari di menit-menit selanjutnya. Betapa senangnya melihat wajah kawan-kawanku yang sedang ber-lunch ria dalam pose free style atau mungkin kesurupan.
Ramainya suara yang hadir dari perbincangan, gelak tawaku dan kawan-kawan di meja cafeteria ini hampir-hampir terasa mencolok seperti tengah show off saja di mata mahasiswa-mahasiswi lain yang kebetulan juga sama-sama lapar atau sekadar ingin melepaskan kepenatannya. Ditambah ornamentasi blink-blink yang selalu setia menemaniku, mulai dari ponsel blueberry, I-pod sampai ke laptop…kusadari betul bahwa wajar saja bila ada kesan seperti itu yang mungkin saja terbersit di benak orang-orang yang ada di sekitarku. “Terserah lah apa kata mereka, toh memang begini lah adanya aku”, quote pribadi inilah yang selalu kupegang teguh selayaknya prinsip hidup yang kuyakini.
“Ko…lu temen sekelas si Vena kan ya ?”, tegasku singkat saja kepada Eko yang memang prajurit bayaranku yang paling setia. Ya, begitu lah…sampai-sampai aku yakin kalau suatu hari kusuruh dia telanjang di gerbang kampus pun bahkan misalnya, dia pasti mau asal dibayar !. Dasar Eko…anjing penjaga terbaik kelas dunia.
“Ya, bos…kenapa emang ?, jawab Eko penuh semangat seperti tahu saja ada order dari bosnya.
“Begini Ko…gue ngga mau tahu nih ya, gimanapun caranya lu harus dapat itu nomor ponsel si Vena. Oke ?”, kusampaikan detail pekerjaan yang harus dilaksanakan Eko sembari menyerahkan dua lembar uang pecahan seratus ribu rupiah.
“Buat ente-ente yang lain…kalau ada job nanti gue kontak”, kuambil inisiatif pembicaraan sebelum kawan-kawan yang lain juga merengek minta jatah macam si Eko.
“Huuuuh…payah !”, balas kawan-kawan yang mungkin kecewa. Teriakan yang paling keras jelas hadir dari mulut si Andi. Apa yang bisa kuberikan sebagai jawaban dari semua itu hanyalah gelengan kepala.
Ponselku berdering melantunkan lagu Dj. Tiesto yang memang kugemari. Segera kutengok, rupanya ada pesan masuk :
Gw tunggu lu di rumah.
Ada sesuatu yang perlu gw omongin. Peluang kontrak main di Klub besar Jawa Barat.
Kesempatan bro
Pengirim : Mario
Tanpa banyak pikiran yang macam-macam, kukemasi barang-barang bawaanku yang berserakan di meja. Ingin segera kumelangkah atau bahkan lari sekencang-kencangnya meninggalkan kampus.
“Gue cabut duluan bro, ada perlu. Bill pasti gue bayar lah, tenang aja !”, jelasku kepada kawan-kawan sebelum berangkat.
“Ngga kuliah lu ?”, tanya Hasyim yang heran melihatku karena tiba-tiba saja menjadi sibuk tak jelas.
Sambil tergesa-gesa menyelesaikan ini-itu di cafeteria, kujawab pertanyaan Hasyim tadi, “malaaa…aaaasssss !”.
Berlari, aku terus saja berlari…ke rumah Mario, ke gerbang masa depan yang memang kuimpikan semenjak kecil ; pemain bola profesional !!!.
(Bagian II Cerita Bersambung “Samba At-taqwa”. Terselesaikan di wanayasa, tepatnya di kamarku sendiri. 24 Juli 2009).
Awan-awan yang bergerombol sore itu seakan turut berpesta merayakan kemenangan tim kami di Final Kejuaraan Sepakbola tingkat Universitas se-Kabupaten Purwakarta. Ya, Muttaqien United, tim kami, menang telak 3-0 melawan tim sepakbola Universitas Purwakarta. Skor yang jelas-jelas fantastis tentu saja. Lain kata, benar-benar di luar dugaan !.
Tak terbayangkan memang, tim sekelas Muttaqien United yang bisa dibilang “anak kemarin sore” itu bisa memenangi pertandingan dengan begitu mudah. Di final bahkan…di final !, ah !...sungguh nikmat rasanya menikmati wajah sendu mahasiwa Universitas Purwakarta yang tidak mendapat apa-apa sore itu selain rasa malu yang begitu mendalam. Skor 3-0 tampaknya memang pantas diberikan untuk mereka. Kerja keras si kuda hitam berbuah manis di hadapan pasukan Persia yang terlanjur buncit perutnya karena dimanja.
Sama sekali tak dihitung, itu barangkali gambaran kasar tentang bagaimana pandangan para pengamat dalam urusan perjalanan tim kami di kejuaraan sepakbola ini. Ya, begitu lah…menyedihkan bukan ?!. Di mana-mana tersiar kabar, Muttaqien United tidak akan pernah sanggup melangkah lebih jauh bahkan untuk sekadar lolos penyisihan. Ditambah bumbu tawa yang seakan meledek…aih, sungguh pengalaman itu terekam begitu jelas di otak kami.
Namun, hari ini kami membuktikan bahwa kami memang pantas untuk menjadi juara. Eureka !!!…hitungan-hitungan pesimis, ledekan-ledekan pahit itu kami jawab dengan prestasi. Numero uno…Muttaqien United sang juara.
Kututup catatan harianku ini dengan perasaan bahagia yang membuncah-buncah. Betapa hari yang luar biasa bersejarah untukku, demikian selintas buih perasaan yang melintas bebas di benakku. Teringat penyelamatan-penyelamatan gemilang yang kulewati di sepanjang waktu pertandingan tadi, teringat hat-trick Mario yang mengantarkannya menjadi top-scorer kejuaraan sepakbola tingkat universitas se-Kabupaten Purwakarta. Semua itu berjejal-jejal di alam rasaku… menggandengku begitu mesra ke alam mimpi. Aku tertidur…sembari tersenyum serasa dunia ini hanya milikku saja.
Gemerincik hujan di luar sana, Purwakarta begitu dingin malam ini. Dentam alunan nada musik ber-genre trance kontras terdengar di kamar ini. Paradoks sesungguhnya, karena di bagian lain petak kamar dan rumah ini justru jeritan histeris manusia-manusia yang ditindas zaman-lah yang nyaring bergemuruh meminta perhatian.
(bagian I cerita bersambung “samba at-taqwa”…terselesaikan di rumah idok – Ps. Jum’at Purwakarta)
Dia...cinta. Dia…wanita penyihir yang melempar rindu, suka, juga duka di waktu yang sama. Dia…empat tahun berlalu sedemikian cepatnya. Ya, roda masa seakan berlarian begitu riangnya, bergerak lepas tanpa beban yang berarti. Empat tahun, ya…empat tahun…bergulir dia. Empat tahun, ya…empat tahun…dan masih saja ada sejuta kenangan yang melulu kubungkus atas nama dia.
“Aida-san…”, jerit batin setengah tertekan. “Apa kabarnya ?. Masihkah ada selintas ingatan tentang diriku yang disimpannya ?. Tetap riangkah dia ?. Cantik-kah dia sebagaimana dulu kupersepsi begitu ?”, bongkahan-bongkahan cerita masa lalu datang bergerombol layaknya awan yang menghiasi angkasa. Namun hitam dia, pekat yang menandai datangnya hujan. Sama sekali tak indah tentu saja.
Purwakarta diselimuti hawa dingin yang begitu menggigit hari ini. Dari balik kaca jendela, kulihat simfoni alam yang seperti tahu saja bagaimana suasana hatiku. Tetes air yang melimpah ruah dari atas sana, oh !...apakah para penghuni langit pun merasakan getir yang tengah kurasakan ini ?.
“Kenapa, Pih ?”, suara itu memutus belenggu kebekuan yang menjeratku sedari tadi. “Papih…papih…papih !!!”, ramai celoteh anak kecil menarik sukmaku yang melayang liar kembali ke tanah kenyataan. Kubalas perhatian mereka dengan senyuman yang andai saja mereka tahu….ah !, itu dibuat-buat demi menutupi pedih perasaan yang kembali mengemuka di permukaan hatiku.
Oh…lihat mereka. Wanita berkerudung yang kunikahi beberapa tahun ke belakang, mamih…betapa cantiknya dia. “Kenapa harus aida-san ?. Kenapa harus memori lama itu lagi ?”, kembali pertanyaan demi pertanyaan muncul dibenakku. Kini, dia malah lebih mirip penyesalan alih-alih sekadar pertanyaan yang menanti sebuah jawaban. Hamzah, Ali…kedua anakku yang masih asyik menjelajahi belantara kekanakannya. Begitu lucu dan menggodanya mereka. “Ah !...tak cukupkah kehadiran mereka sebagai mutiara hidupku, sehingga masih ada ruang yang tersisa untuk aida-san ?”, terdiam saja aku dalam monolog yang kukira paling tragis.
Wanayasa, 18 Juli 2009
Fragmen awal cerita bersambung ini ditulis di wanayasa, bersama kegelapan yang seakan menjadi penanda kebenaran thesis tentang involusi negara dunia ke-tiga.

